Defisit Keteladanan

Misteri Ide
Januari 10, 2021
Dilema Sekolah Negeri
April 7, 2021

Defisit Keteladanan

Oleh Arifin

Nalarku.com, Gunungkidul 27 Januari 2021 –  Apa yang hilang dari kehidupan kita saat ini? Salah satu hal terpenting yang mulai lenyap adalah keteladanan. Coba cermati, betapa kerakusan dipertontonkan dengan sangat mencolok. Korupsi bantuan sosial misalnya, ini satu bentuk kerakusan plus kekejian. Keji karena tega mencuri uang si miskin di tengah krisis karena pandemi. Belum lagi beberapa kasus korupsi di beberapa lembaga, misalnya Jiwasraya, Asabri, dan sejumlah kasus lainnya. Yang melakukan bukan orang sembarangan. Mereka memiliki jabatan tinggi, ada yang menteri, kepala BUMN, direktur, dan anggota DPR yang mulia.

Seperti virus, perilaku korupsi ini menyebar ke seluruh penjuru. Pejabat-pejabat dan pegawai di aras bawah pun tertular virus korupsi ini. Akhirnya perilaku korupsi menjelma seperti pandemi. Dari pusat pemerintahan hingga pengelola pemerintahan terbawah, kepala desa bahkan RT pun terjangkiti. Banyak lurah yang ditangkap karena diduga korupsi dana desa. Para pegawai fungsional pun tidak ketinggalan. Jika ada celah korupsi, maka terjadilah. Jika tidak ada uang yuag dikorupsi, waktu pun bisa dikorupsi.

Inilah sebagian wajah negeri kita saat ini. Diakui atau tidak, hal ini masih terjadi di depan mata kita. Apa dampak dari semua ini? Dampaknya sungguh luar biasa. Mutu pekerjaan dan layanan menjadi buruk. Kita pernah membaca berita, ada jembatan yang baru satu hari diresmikan, roboh karena kualitas kontruksinya buruk.  Jalan beraspal yang mudah dikelupas, karena kualitas aspalnya rendah. Orang miskin yang mestinya menerima barang seharga Rp 300.000 , hanya menikmati seharga Rp.150.000 karena ada potongan berjenjang, dari pusat hingga tingkat bawah. 

Lebih parah lagi, dunia pendidikan juga tercemari perilaku korupsi. Celahnya banyak. Bisa dari sumber dana BOS , Dana Komite, bahkan Iuran Mandiri siswa. Modusnya bisa dengan kwitansi belanja asli tapi palsu dengan angka yang sudah di mark up. Bisa juga dari iuran mandiri siswa, misalnya uang seragam, uang rekreasi, atau bentuk iuran lainnya. Mungkin caranya tidak mencolok karena sudah kerjasama dengan pihak ketiga. Misalnya, uang rekreasi yang masuk ke biro travel, sebagian akan dikembalikan kepada pihak tertentu sebagai komisi. Tujuannya agar biro travel tersebut selalu dipakai pada tahun berikutnya. Akibatnya tentu pada penurunan kualitas layanan pada siswa. Karena biaya kamar hotel dan biaya makan dipotong untuk komisi maka  kualitas layanan diturunkan.

Pengadaan seragam juga sering menjadi lahan proyek pihak tertentu untuk mencari keuntungan. Maka saya pribadi sering tidak setuju jika pihak sekolah ikut mengelola pengadaan seragam. Lebih baik pengadaan seragam diserahkan kepada orangtua siswa, baik secara individu maupun kelompok. Sekolah hanya memberikan rambu-rambu dan panduan mode seragam sesuai dengan regulasi yang ada. 

Kasus-kasus semacam ini pernah dikaji oleh seorang pengamat pendidikan, Darmaningtyas. Dia mengkritisi perilaku korup di dunia pendidikan ini sehingga proses pendidikan sendiri menjadi terbengkelai dan mengalami kerusakan. Dia menuliskan semua temuannya dalam sebuah buku yang berjudul ” Pendidikan Rusak-Rusakan”. 

Darmaningtyas secara khusus menyoroti malpraktik pendidikan pada tingkat kebijakan yang marak. Bentuk-bentuk malpraktik diantaranya adalah korupsi yang kiam massif dari pusat hingga daerah; ketidakpedulian para penguasa terhadap nasib guru dan siswa; maraknya pungutan liar. dan lain sebagainya.  Malpraktik ini masih diperparah lagi dengan lambannya respon pemerintah terhadap reformasi birokrasi dan manajemen pendidikan.

Dari akumulasi kerusakan ini, banyak pihak mulai kehilangan kepercayaan dan sebagian hampir putus asa. Sebagian guru yang mencoba bertahan untuk tampil sebagai teladan mulai goyah juga. Ketika melihat sebagian besar temannya menghilang dari ruang guru pada jam-jam efektif, lambat laun guru yang baik tercemar virus indisipliner, lalu ikut-ikutan korupsi waktu. Apalagi ditambah adanya mekanisme penegakan disiplin dan obyektivitas penilaian yang tidak konsisten.  Semuanya menjadi tidak terkendali, seperti sapu terlepas ikatan atau anak ayam kehilangan induk, ambyar.

Kita, jika mau jujur, sedang mengalami defisit keteladanan.

Tulisan ini adalah katarsis pribadi penulis. Bisa salah, bisa juga ada benarnya. Wallaahu a’lam,

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Sekarang