SMADA Wonosari, Ujian Senam Kreasi Berkarakter

Kemenag Lakukan Tes Mirip PISA untuk Siswa Madrasah
Desember 5, 2019
Gosip Ruang Guru
Desember 20, 2019

Senam Kreasi Siswa SMADA Wonosari

Gunungkidul, 20 Desember 2019.   SMA Negeri 2 Wonosari memiliki komitmen untuk menjadi sekolah yang berbasis karakter. Karakter mulia menjadi fondasi dari semua gerak pembelajaran dan kegiatan pendidikan di sekolah. Semua kegiatan intrakurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler diselenggarakan dengan landasan karakter religius, integritas, mandiri, nasionalis, dan gotong royong.

Salah satu implementasi matra karakter dalam pembelajaran adalah ujian senam yang diselenggarakan oleh mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan (Penjasorkes) yang diampu oleh Drs. Satsu Widodo.  Setiap tahun, peserta didik kelas XII diwajibkan menciptakan satu kreasi koreografi senam dan menampilkannya dalam sebuah gelaran ujian senam. Biasanya, ujian senam ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan class meeting pada semester pertama setiap tahun pelajaran.

Setiap kelas menampilkan koreografi yang unik. Para peserta didik diberi kebebasan berkreasi. Guru mata pelajaran hanya memberikan  kisi-kisi dan rambu-rambu yang terkait dengan kostum, gerakan, dan tampilan yang mengacu kepada karakter prioritas.

Karakter religius, mandiri dan gotong royong sangat kental dalam gelaran ujian senam kali ini. Hal ini bisa dilihat dari aspek kostum dan koreografi yang ditampilkan setiap kelas. Kostum yang mereka kenakan tetap mengacu pada batasan ajaran agama yang mereka anut, tetap sopan dan menutup aurat bagi peserta didik perempuan muslimah. Para peserta didik juga sangat mandiri dan penuh dengan kegotong-royongan. Mereka menyiapkan semua perangkat tampil secara mandiri; mulai dari kostum, tata panggung, dan sound system; semua dipersiapkan oleh siswa secara mandiri di masing-masing kelas.

Kepala sekolah SMA Negeri 2 Wonosari, Sumardi, S.Pd.,M.Pd., memberikan apresiasi tinggi terhadap kreatifitas guru mata pelajaran Penjasorkes dan peserta didik. Beliau mengatakan, “Para siswa sangat kreatif, kita sangat mengapreasisi, namun kreatifitas mereka ini harus senantiasa kita arahkan sehingga tidak keluar dari rambu-rambu karakter. Kreatifitas yang tidak diwadahi dan diarahkan bisa merusak karakter.” (#ipin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Sekarang